Berita
LANGKAH TEGAP 9C, SUARA HARMONIS PADUAN SUARA: SENIN PAGI PENUH SEMANGAT DI SMPN 3 KRAMATWATU
Kramatwatu, Senin, 10 Agustus 2026 — Senin pagi di SMPN 3 Kramatwatu diawali dengan suasana penuh khidmat dan semangat melalui pelaksanaan upacara bendera rutin, Senin, 10 Agustus 2026. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti upacara sebagai bagian dari pembiasaan disiplin sekaligus penguatan karakter di awal pekan.
Pada kesempatan kali ini, peserta didik kelas 9C mendapat kepercayaan sebagai petugas upacara. Kepercayaan tersebut dijalankan dengan penuh kesungguhan. Sejak persiapan hingga seluruh rangkaian upacara selesai, para petugas menunjukkan kesiapan, ketertiban, kekompakan, dan tanggung jawab dalam menjalankan setiap tugas yang dipercayakan kepada mereka.

Penampilan petugas kelas 9C terlihat semakin meyakinkan ketika mereka menjalankan tugas dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih. Dengan sikap tegap, gerakan yang terkoordinasi, serta konsentrasi yang terjaga, mereka mampu menjalankan salah satu bagian penting upacara dengan baik.
Kesigapan tersebut menjadi gambaran bahwa tugas sebagai petugas upacara bukan sekadar menjalankan peran seremonial, tetapi juga merupakan proses pembelajaran karakter. Di dalamnya terdapat latihan kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, dan kemampuan untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan.

9C Menunjukkan Kesiapan dan Dedikasi
Keberhasilan pelaksanaan tugas kelas 9C pada upacara kali ini patut mendapat apresiasi. Mereka tidak hanya tampil sebagai petugas, tetapi juga menunjukkan kesiapan untuk memberikan yang terbaik dalam mengawali pekan bagi seluruh warga sekolah.
Kesiapan tersebut terlihat dari kekompakan barisan, ketepatan dalam menjalankan tugas, hingga kesungguhan dalam mengikuti setiap tahapan upacara.
Apresiasi diberikan kepada seluruh petugas kelas 9C atas dedikasi, kesigapan, dan tanggung jawab yang telah ditunjukkan. Keberhasilan mereka diharapkan menjadi pengalaman berharga sekaligus inspirasi bagi kelas-kelas lainnya untuk berani mengambil tanggung jawab dan memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah.
Bagi peserta didik, pengalaman menjadi petugas upacara juga merupakan kesempatan untuk belajar bahwa sebuah tugas yang dipercayakan harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Kesuksesan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan lahir dari latihan, kesiapan, kekompakan, dan kemauan untuk bertanggung jawab.

Paduan Suara Hadirkan Harmoni di Tengah Kekhidmatan Upacara
Nuansa upacara semakin lengkap dengan penampilan tim paduan suara SMPN 3 Kramatwatu di bawah pembinaan Ibu Tetty.
Dengan komposisi suara yang tertata dan penampilan yang penuh percaya diri, tim paduan suara turut menghidupkan suasana upacara melalui rangkaian lagu dan penghormatan yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan upacara bendera.

Tim paduan suara mengiringi pelaksanaan Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, serta lagu “Rukun Sama Teman”. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan warna dalam pelaksanaan upacara, tetapi juga menjadi sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat, musikalitas, keberanian tampil, dan kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim.
Di bawah bimbingan Ibu Tetty, anak-anak paduan suara belajar bahwa menghasilkan harmoni membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bernyanyi. Setiap anggota harus mampu mendengarkan, menyesuaikan suara, menjaga tempo, mengikuti aba-aba, dan menempatkan diri sebagai bagian dari sebuah kesatuan.
Dari situlah nilai pendidikan hadir: setiap suara memiliki peran, dan setiap peran menjadi penting ketika dijalankan bersama.

Dari Lapangan Upacara, Tumbuh Karakter
Pelaksanaan upacara Senin pagi ini menjadi gambaran bahwa kegiatan rutin di sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran yang kaya akan nilai.
Petugas upacara belajar tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Tim paduan suara belajar tentang harmoni dan kerja sama. Sementara seluruh peserta didik belajar tentang kedisiplinan, ketertiban, penghormatan terhadap simbol negara, dan kesiapan mengikuti kegiatan sekolah.
Dalam konteks tersebut, apresiasi tidak hanya diberikan kepada mereka yang tampil di depan, tetapi juga kepada seluruh pihak yang telah mempersiapkan dan mendukung terlaksananya upacara dengan baik.

Khusus kepada kelas 9C, penampilan mereka pada Senin pagi ini menjadi catatan positif dalam perjalanan mereka sebagai peserta didik SMPN 3 Kramatwatu. Kesigapan dan kesungguhan yang ditunjukkan menjadi bukti bahwa ketika sebuah amanah diberikan dan dipersiapkan dengan baik, hasilnya dapat menjadi kebanggaan bersama.
Begitu pula kepada tim paduan suara di bawah pembinaan Ibu Tetty, apresiasi diberikan atas kontribusinya dalam menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus harmonis sepanjang rangkaian upacara.
Upacara bendera akhirnya bukan sekadar rutinitas setiap Senin pagi. Ia menjadi panggung kecil tempat karakter dibentuk, tanggung jawab dilatih, bakat dikembangkan, dan kebersamaan dirawat.
Senin pagi di SMPN 3 Kramatwatu pun dimulai dengan satu pesan sederhana: datang dengan disiplin, bertugas dengan tanggung jawab, tampil dengan percaya diri, dan tumbuh bersama dalam harmoni.
SMPN 3 Kramatwatu — Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Terampil.
UPACARA BENDERA SENIN DI SMPN 3 KRAMATWATU, TANAMKAN DISIPLIN WAKTU DAN PEMBIASAAN POSITIF
Kramatwatu, Senin, 10 Agustus 2026 — SMPN 3 Kramatwatu kembali melaksanakan upacara bendera rutin pada Senin pagi, 10 Agustus 2026. Upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan berlangsung dengan tertib serta penuh khidmat.
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh peserta didik bersama Kepala Sekolah, dewan guru, dan tenaga kependidikan SMPN 3 Kramatwatu. Pada pelaksanaan kali ini, kelas 9C mendapat kepercayaan sebagai petugas upacara, sementara Ibu Harty selaku wali kelas 9C bertindak sebagai pembina upacara.
Dalam amanatnya, Ibu Harty mengingatkan kembali pentingnya kedisiplinan waktu sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, disiplin tidak hanya ditunjukkan melalui kehadiran tepat waktu di sekolah, tetapi juga melalui kepatuhan terhadap waktu pergantian jam pelajaran.
«“Ketika jam pelajaran sudah berganti, anak-anak harus segera masuk dan mengikuti pembelajaran berikutnya. Jangan sampai sudah masuk jam pelajaran baru, justru masih meminta izin untuk berganti pakaian.”»
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kedisiplinan peserta didik setelah mengikuti pembelajaran olahraga. Ibu Harty mengingatkan agar siswa yang telah selesai mengikuti kegiatan olahraga segera mengganti pakaian olahraga dengan seragam yang sesuai, sehingga tidak mengganggu ketepatan waktu mengikuti pembelajaran pada jam berikutnya.
«“Setelah olahraga, upayakan langsung berganti kostum. Jangan menunggu sampai jam pelajaran berikutnya sudah dimulai, baru kemudian izin untuk berganti pakaian.”»
Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut merupakan bagian dari latihan tanggung jawab dan penghargaan terhadap waktu, baik waktu pribadi maupun waktu belajar bersama.
Selain mengenai disiplin waktu, Ibu Harty juga mengingatkan peserta didik mengenai pembiasaan pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, khususnya kegiatan membaca Al-Qur’an. Pembiasaan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pembentukan karakter religius peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, pembacaan Juz 30 diarahkan untuk dimulai dari Surah An-Naba, kemudian dilanjutkan secara berurutan hingga Surah An-Nas. Dengan demikian, pembiasaan membaca Al-Qur’an tidak dimulai dari Surah An-Nas, tetapi dari bagian awal Juz 30.
«“Pembiasaan membaca Al-Qur’an sebelum KBM bukan hanya sekadar rutinitas. Mari kita biasakan membaca Juz 30 dengan dimulai dari Surah An-Naba, kemudian dilanjutkan sampai Surah An-Nas.”»
Pesan-pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh peserta didik bahwa disiplin, tanggung jawab, dan pembiasaan positif merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Ketepatan waktu dalam mengikuti pembelajaran serta konsistensi dalam menjalankan pembiasaan pagi diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik yang tertib, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.
Upacara bendera Senin pagi ini sekaligus menjadi momentum bagi seluruh warga SMPN 3 Kramatwatu untuk mengawali pekan dengan semangat baru, memperkuat kedisiplinan, serta membangun budaya sekolah yang positif.
SMPN 3 Kramatwatu — Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Terampil.
Usai Upacara Hari Lahir Pancasila, Guru SMPN 3 Kramatwatu Menimba Inspirasi Sejarah di Keraton Kaibon
Serang, 1 Juni 2026 – Usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tingkat Kabupaten Serang Tahun 2026 yang berlangsung khidmat di Alun-Alun Kramatwatu, sejumlah dewan guru dan Kepala Tata Usaha SMPN 3 Kramatwatu secara spontan dan insidental melanjutkan kegiatan dengan melakukan wisata sejarah ke situs Keraton Kaibon yang terletak di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Kegiatan tersebut dibersamai oleh Kepala SMPN 3 Kramatwatu, Endang Daruqutni, Ketua MKKS SMP Kabupaten Serang, Wahid Hasyim, serta Kegtua MKPS, Sriyono. Kunjungan ini menjadi bagian dari refleksi kebangsaan setelah mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila, sekaligus momentum untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah dan budaya yang dimiliki Banten.
Di tengah hamparan reruntuhan bangunan kuno yang masih berdiri kokoh, para peserta menyusuri setiap sudut kawasan Keraton Kaibon sambil berdiskusi ringan mengenai perjalanan sejarah Kesultanan Banten dan nilai-nilai yang dapat dipetik untuk kehidupan masa kini. Suasana tersebut menghadirkan kesadaran bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber pembelajaran yang relevan dalam membangun karakter dan jati diri bangsa.
Kunjungan ke Keraton Kaibon ini tidak semata-mata menjadi sarana melepas lelah setelah mengikuti rangkaian upacara yang berlangsung sejak pagi hari ataupun sekadar mengabadikan momen melalui swafoto di situs bersejarah. Lebih dari itu, kegiatan ini dimaknai sebagai ruang belajar kontekstual bagi para pendidik untuk memperkuat literasi sejarah, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya, serta merefleksikan nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, dan kebangsaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari semangat Pancasila.
Di sela-sela penelusuran kawasan situs, salah seorang guru yang turut dalam rombongan tampak mengamati sisa-sisa bangunan keraton dengan penuh kekaguman. Sambil memperhatikan ketebalan dinding dan struktur bangunan yang masih berdiri kokoh meski telah berusia lebih dari dua abad, ia berujar, “Luar biasa ya, bangunannya sudah sangat lama tetapi sebagian strukturnya masih tampak kuat dan kokoh. Padahal pada masa itu teknologi konstruksi modern dan penggunaan besi seperti sekarang belum dikenal luas.” Ungkapan tersebut kemudian memantik diskusi ringan mengenai kecerdasan arsitektur dan teknik bangunan para leluhur yang mampu menghasilkan konstruksi berdaya tahan tinggi hingga tetap dapat disaksikan oleh generasi masa kini.
Suasana edukatif semakin terasa ketika rombongan menjumpai sejumlah pelajar SMA yang tergabung dalam komunitas sastra sedang melakukan proses pengambilan gambar untuk sebuah film pendek di kawasan Keraton Kaibon. Dengan memanfaatkan latar situs bersejarah tersebut, para siswa tampak serius memainkan peran sesuai skenario yang mereka susun secara mandiri.
Melihat aktivitas tersebut, Kepala SMPN 3 Kramatwatu, Endang Daruqutni, sempat menyapa dan berdialog ringan dengan para pelajar.
“Adik-adik sedang apa?” tanyanya.
“Sedang shooting film pendek, Pak,” jawab salah seorang siswa.
“Film sekolah atau komunitas?”
“Komunitas, Pak. Kami dari komunitas sastra beberapa SMA di Kota Serang,” jawab mereka, sambil bersiap melanjutkan proses pengambilan gambar untuk salah satu adegan yang telah disusun dalam skenario film pendek tersebut.
Percakapan singkat tersebut menghadirkan optimisme bahwa situs-situs sejarah tidak hanya menjadi ruang belajar tentang masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi kreativitas generasi muda dalam berkarya melalui sastra, film, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya.
Di sudut lain kawasan Keraton Kaibon, rombongan juga menjumpai sejumlah anggota Pramuka Penegak yang tengah mengikuti kegiatan kepramukaan dan ujian kecakapan yang didampingi para pembinanya. Kehadiran para anggota Pramuka tersebut semakin menguatkan fungsi Keraton Kaibon sebagai ruang pembelajaran terbuka yang mampu mempertemukan sejarah, pendidikan karakter, dan aktivitas kepemudaan dalam satu tempat yang sama.
Rasa ingin tahu terhadap sejarah Keraton Kaibon juga mendorong rombongan yang diwakili kepala sekolah, mengunjungi pusat informasi yang berada di sekitar area pintu masuk kompleks. Di lokasi tersebut, berbincang dengan petugas yang bertugas menjaga kawasan sekaligus melayani pengunjung. Dari percakapan tersebut diperoleh berbagai informasi mengenai sejarah singkat Keraton Kaibon, proses pemugaran yang pernah dilakukan, hingga perkembangan kawasan Banten Lama sebagai destinasi wisata sejarah dan religi yang terus berkembang.
Dalam kesempatan itu, Endang juga sempat bertanya dengan salah seorang guru mengenai pemanfaatan situs sejarah lokal sebagai sumber belajar peserta didik.
“Ibu pernah membawa anak-anak berkunjung ke sini untuk kegiatan pembelajaran atau outing class?” tanyanya.
Guru tersebut menjawab bahwa hingga saat ini sekolah belum pernah secara khusus melaksanakan kegiatan pembelajaran lapangan di Keraton Kaibon.
Percakapan sederhana tersebut kemudian memunculkan gagasan bahwa kekayaan sejarah yang berada tidak jauh dari lingkungan sekolah sesungguhnya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran kontekstual. Melalui kunjungan langsung ke situs-situs sejarah daerah, peserta didik tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga dapat menyaksikan, merasakan, dan memahami jejak peradaban yang pernah tumbuh di tanah Banten.
Menurut berbagai sumber sejarah, termasuk Wikipedia Bahasa Indonesia serta buku Keraton Kaibon: Sejarah, Arsitektur, Fungsi dan Potensi Cagar Budaya Menurut Analisis SWOT karya Eneng Malihatunnajiah dkk. yang dieditori Dr. Muhamad Shoheh, M.A., Keraton Kaibon dibangun sekitar tahun 1815 oleh Sultan Syafiuddin sebagai kediaman bagi ibundanya, Ratu Aisyah. Nama “Kaibon” sendiri berasal dari kata kaibuan yang bermakna tempat tinggal ibu suri atau ibunda sultan.
Keraton ini pernah menjadi bagian penting dari kehidupan Kesultanan Banten sebelum akhirnya dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1832. Meski kini hanya menyisakan sebagian struktur bangunan dan gerbang bersejarah, Keraton Kaibon tetap menjadi salah satu situs cagar budaya penting di Banten serta destinasi wisata edukasi yang banyak dikunjungi masyarakat.
Berbagai kajian juga menunjukkan bahwa Keraton Kaibon memiliki potensi besar sebagai sarana pendidikan sejarah, penelitian, pelestarian budaya, dan pengembangan wisata edukatif. Karena itu, keberadaan situs ini perlu terus dijaga dan dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi generasi muda agar semakin mengenal sejarah dan identitas budayanya.
Kepala SMPN 3 Kramatwatu, Endang Daruqutni, menyampaikan bahwa kunjungan sejarah seperti ini memiliki nilai yang sangat penting bagi dunia pendidikan.
“Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya dimaknai melalui upacara seremonial semata, tetapi juga perlu diwujudkan melalui upaya mengenali sejarah bangsa dan daerah kita sendiri. Dari situs-situs seperti Keraton Kaibon, kita belajar tentang perjuangan, kepemimpinan, identitas budaya, serta pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujarnya.
Momentum Hari Lahir Pancasila 2026 terasa semakin bermakna ketika semangat kebangsaan dipadukan dengan upaya mengenal dan mencintai warisan sejarah daerah. Keraton Kaibon bukan sekadar reruntuhan bangunan tua, melainkan saksi perjalanan peradaban yang mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, melestarikan budayanya, dan menjadikan nilai-nilai luhur sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui kunjungan tersebut, para pendidik SMPN 3 Kramatwatu berharap semangat pelestarian sejarah dan penguatan karakter kebangsaan dapat terus ditanamkan kepada peserta didik. Sebab, sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, warisan sejarah merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa Indonesia.
Kunjungan sederhana yang dilakukan pada momentum Hari Lahir Pancasila ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga dapat ditemukan di setiap jejak sejarah yang diwariskan para pendahulu untuk generasi penerus bangsa. (edeqi)
Tasyakuran Kelas IX SMP Negeri 3 Kramatwatu 2025–2026
“Menggenggam Masa Depan, Meluaskan Harapan”
Kramatwatu, Sabtu 30 Mei 2026 — SMP Negeri 3 Kramatwatu Kabupaten Serang, Banten menyelenggarakan kegiatan Tasyakuran Peserta Didik Kelas IX Tahun Akademik 2025–2026 dengan tema “Menggenggam Masa Depan, Meluaskan Harapan”, bertempat di Ball Room Hotel Mangkuputra Cilegon.
Kegiatan berlangsung khidmat, meriah, dan penuh kebersamaan. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala SMP Negeri 3 Kramatwatu Endang Daruqutni, M.Pd., Kepala SMP Negeri 3 Kramatwatu sebelumnya Bapak Ahmad Sutisna, S.Pd., Komite Sekolah, orang tua/wali peserta didik kelas IX, seluruh peserta didik kelas IX, serta Bapak/Ibu guru dan tenaga kependidikan SMP Negeri 3 Kramatwatu.
Acara diawali sejak pagi dengan registrasi peserta, kemudian dibuka dengan penampilan pencak silat oleh peserta didik SMP Negeri 3 Kramatwatu. Selanjutnya kegiatan resmi dibuka, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Suasana semakin semarak dengan beragam penampilan seni dan kreativitas peserta didik, di antaranya Rampak Bedug, vocal group, tari piring, duet vokal, modern dance, dan penampilan seni lainnya yang mendapat apresiasi meriah dari seluruh tamu undangan.
Kegiatan juga diisi dengan penyampaian sepatah kata dari perwakilan peserta didik kelas VII dan VIII, perwakilan kelas IX, sambutan dari Komite Sekolah, sambutan Kepala Sekolah sebelumnya Bapak Ahmad Sutisna, S.Pd., serta sambutan Kepala SMP Negeri 3 Kramatwatu.
Dalam sambutannya, Kepala SMP Negeri 3 Kramatwatu Endang Daruqutni, M.Pd. menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan dapat hadir bersama keluarga besar sekolah dalam momentum penuh makna tersebut.
Beliau juga menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada Kepala Sekolah sebelumnya atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan dalam membersamai perjalanan SMP Negeri 3 Kramatwatu.
Kepada peserta didik kelas IX, beliau berpesan agar terus melangkah dengan percaya diri menuju masa depan.
“Menggenggam masa depan artinya belajar memegang erat cita-cita dan tujuan hidup. Meluaskan harapan berarti jangan pernah membatasi mimpi. Teruslah belajar dengan sungguh-sungguh, jaga akhlak, hormati orang tua dan guru, serta bawalah nama baik keluarga dan almamater ke mana pun kalian melangkah.”
Pada kesempatan tersebut juga diumumkan dan diberikan penghargaan kepada peserta didik berprestasi, baik akademik maupun nonakademik, termasuk peserta didik dengan capaian nilai tertinggi Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas IX Tahun Pelajaran 2025–2026.
Acara dilanjutkan dengan prosesi pengalungan medali kepada seluruh peserta didik kelas IX sebagai simbol apresiasi atas perjalanan pendidikan selama tiga tahun di SMP Negeri 3 Kramatwatu.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dalam suasana haru dan penuh rasa syukur.
Semoga seluruh peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 Kramatwatu senantiasa diberikan kemudahan dalam melanjutkan pendidikan, meraih cita-cita terbaik, dan menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, tangguh, serta membawa manfaat bagi masyarakat.
Spentrik keren… menggenggam masa depan, meluaskan harapan.
SMPN 3 Kramatwatu Kembangkan Literasi Digital
KRAMATWATU – SMPN 3 Kramatwatu terus berinovasi memberikan fasilitas terbaik bagi siswa, selain kualitas guru, kini mengembangkan literasi digital dengan membuat media pembelajaran berupa website, podcast dan televisi.
Kepala SMPN 3 Kramatwatu Suharno mengatakan, target utama sekolah dengan pengembangan multimedia ini mengarahkan siswa pada ekonomi kreatif. “Rencananya bakal launching program podcast awal tahun depan,” kata Suharno kepada Radar Banten di ruang kerjanya, Rabu (10/11).
Kepala SMPN 3 Kramatwatu Tutup Usia
Sosok kepala sekolah yang rajin dan pekerja keras ini wafat pada Senin (11/3/2022) pukul 05.00 WIB.
Sejak beberapa bulan sebelumnya, almarhum sempat dirawat di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM). Pria berkacamata ini memiliki riwayat penyakit liver.
Kepergiannya menimbulkan luka mendalam dan kehilangan bagi beberapa rekan kepala SMP di Kabupaten Serang.
Selama mengemban amanah sebagai kepala sekolah, lelaki kelahiran Batam, 26 Desember 1971, itu merupakan sosok pemimpin yang memiliki visi tinggi memajukan pendidikan.
“Orangnya banyak ide dan terobosan, pokoknya kalau sudah kerja, totalitas banget,” kata Kepala SMPN 2 Mancak Agung Supriyanto.
Agung bercerita, kedekatannya dengan almarhum sudah seperti kakak dan adik. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Agung sering mengantar almarhum ke berbagai acara dan lokasi tugas.
“Soalnya, dia (almarhum Suharno-red) ke mana-mana senangnya naik motor, saya sering mengingatkan agar jangan terlalu capek,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang Aat Supriyadi menyampaikan, pihaknya sebagai lembaga dan pimpinan turut berduka yang mendalam atas meninggalnya almarhum.
Dia mendoakan, semoga amal dan ibadah Suharno diterima Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta ketabahan.
“Kami kehilangan sosok almarhum yang selalu semangat dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan program pendidikan di satuannya,” ucap Aat.
Saat ini, jenazah dibawa ke kediaman keluarga di wilayah Jawa untuk dimakamkan.*








